Sudarmanto, korban selamat banjir bandang kali Bladak saat dirawat di RS Ngudi Waluyo Wlingi
(img : beritaoposisi )
Warga Sebelumnya Menutupi Kejadian Tersebut, Bahkan Kapolsek Nglegok Tidak Mengetahui Kejadian Tersebut
Blitar, Sudarmanto (35), warga dusun Bladak Desa Penataran Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar, nyaris tewas digulung banjir bandang lahar gunung kelud di aliran sungai Bladak. Penambang pasir manual ini, ditemukan warga dalam keadan tidak sadarkan diri berada di radius satu kilometer dari lokasi penambangan manual hulu sungai Bladak, setelah disapu banjir bandang lahar hujan, Sabtu petang (25/2) lalu.
Saat ditemui di ruang perawatan, Bugenvil RSD Ngudi Waluyo Wlingi, Jum'at siang (03/03) Sudarmanto mengaku, terjadinya banjir bandang lahar hujan di lokasi yang berjarak sekitar 3 kilometer dari puncak gunung Kelud ini, bermula saat mendung gelap, bergelanyut di sekitar lahan kaplingan penambangan pasir manual. Dia bersama sejumlah rekannya tengah menaikan pasir, ke 6 truk di radius 25 meter dari Sabo Dam Kali Bladak. Namun tiba-tiba banjir dari hulu sungai yang awalnya pelan, langsung membesar dan meyapu apa saja yang dilaluinya. Meski berupaya melarikan diri, namun Sudarmanto akhirnya ikut tergulung ganasnya banjir bandang tersebut.
"Awalnya arus air pelan, namun tiba-tiba besar dan kaki saya tersangkut kayu, dan saya langsung disapu banjir hingga tak sadarkan diri," ungkap Sudarmanto sambil terkulai di ruang perawatan.
Lebih lanjut Sudarmanto menceritakan, dirinya tersadar setelah ditolong warga dalam keadaan setengah telanjang dan mengalami luka pada tangan kanan dan kepala bagian belakang. Dirinya dievakuasi, dan dilarikan ke rumah sakit Budi Rahayu, namun akhirnya dirujuk ke RSD Ngudi Waluyo untuk menjalani operasi tulang.
Menurut Sudarmanto, selain dirinya, Samiaji, rekanya sesama penambang pasir manual turut dirawat di rumah sakit, namun sudah diijinkan pulang lebih dahulu. "Teman saya Samiaji, sudah diijinkan pulang, karena lukanya tidak separah saya," imbuhnya.
Setelah kejadian tersebut Sudarmanto menyatakan sudah jera dan trauma bekerja sebagai penambang pasir dialiran sungai Bladak. Jika kondisinya sudah pulih, dia memilih kembali bekerja di perkebunan.
"Bagi saya, ini mukzijat. Saya masih hidup meski disapu banjir. Kalau sudah pulih, lebih baik saya bekerja di perkebunan lagi seperti dulu,” kata Sudarmanto.
Sementara Sriatun (55), ibunda Sudarmanto, melarang anaknya untuk kembali bekerja di lokasi penambangan pasir kali Bladak. Dia mengkhawatirkan kondisi tangannya yang mengalami patah tulang, akibat musibah yang menimpa anaknya ini.
"Saya tidak mau Sudar kembali ke penambangan pasir kali Bladak, karena banjir bandang lahar hujan, bisa mengancam bagi nyawanya," jelas Sriatun.
Sekedar diketahui, awalnya peristiwa banjir bandang kali Bladak tersebut sempat menjadi berita Hoax, meskipun sudah beredar rekaman video yang menggambarkan detik detik terjadinya banjir lahar hujan, di kali Bladak Desa Penataran Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Bahkan sempat menjadi viral di media sosial. Rekaman video dari kamera seluler tersebut, menunjukkan datangnya banjir bercampur material vulkanik menerjang aliran sungai Bladak.Terlihat, truk penambang pasir dan para penambang berusaha menyelamatkan diri ditengah kepungan banjir bandang. Naas, sejumlah penambang tidak mampu keluar dari ganasnya terjangan banjir, hingga terguling didalamnya. Sementara, dari enam truk yang terseret, dua diantaranya tertimbun material vulkanik.
Kejadian tersebut sempat ditutup-tutupi warga sekitar, bahkan Kapolsek Nglegok pun saat dikonfirmasi mengaku, jika kejadian di kali Bladak tersebut tidak benar. Padahal saat itu ada sekitar 6 truk dan 4 penambang yang masih beraktivitas. Mereka akhirnya terseret banjir bandang, hingga 2 truk terjebak, sementara 2 orang penambang yakni Sudarmanto dan Samiaji tergulung sejauh sekitar 1 kilometer.
Sementara Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Blitar, Ganef Rahmawanto saat menjenguk korban di RSD Ngudi Waluyo, Wlingi, Blitar Jum’at siang (03/03) mengatakan, banjir bandang menyapu para penambang dan truk yang terjebak di tengah banjir.
“Benar pada Sabtu sore lalu, ada 6 truk yang terseret, 2 terguling dan terjebak material. Sementara ada 2 penambang dilarikan ke rumah sakit karena terluka parah,” terang Ganef .
Ganef menambahkan, jika pihaknya telah menghimbau para penambang, agar tidak beraktivitas saat cuaca buruk di puncak Kelud, supaya tidak terjadi hal serupa. “Kita sudah ingatkan sejak lama, namun mereka tetap beraktivitas karena menyangkut urusan perut,” pungkasnya. (fjr)
Sumber : BERITAOPOSISI.COM


Tidak ada komentar:
Posting Komentar